SEBAGAI pengamat janda, Arief , 40, memang tak mau kerja setengah-setengah. Begitu janda tetangga dekat rumah memberi lampu hijau, langsung diajak begituan. Sebetulnya sudah lama Arief ini mengincar Nurul, 30, tapi ada peluang baru sekarang. Maka karena cinta lama belum kelar (CLBK), sekarang dituntaskan.

Penyakit “subita” alias suka bini tetangga, sering terjadi di dalam masyarakat. Bisa karena dasarnya lelaki celamitan, bisa pula katena “sense of belonging”-nya terlalu kuat. Suaminya juga bukan, bekas pacar juga tidak, tapi rasa memilikinya terlalu tinggi. Cuma, tak semuanya bisa sampai finish di atas ranjang. Kebanyakan hanya sekedar wacana, untuk menambah gairah hidup.

Di Klojen Malang, rumahtangga Arief Uyuhono ini sebetulnya aman sejahtera. Tapi sejak lima tahun lalu ada tetangga baru, pasangan Andi-Nurul. Sejak kali pertama kenal, otak Arief Uyuhono maunya ngeres saja. Sebab selain Nurul ini cantik, bodinya sungguh nggak ketulungan. Sekel nan cemekel pokoknya. Sampai-sampai Arif pernah bergumam, “Aku punya bini macam Nurul, di rumah sarungan terus!”

Andaikan Nurul ini mobil, pastilah Andi diajak tukar-tambah. Biar hanya jadi tangan kedua, nggak apa-apa, yang penting kan bodi kaleng dan surat-surat komplit. Apa lagi Andi ini dokter, bekas dokter pasti terawat rapi, jarang pakai lagi! Tapi sayangnya, Nurul memang bukan mobil, tapi bini orang!

Begitulah, Arief Uyuhono kadung menjadi korban cinta terpendam, seperti ABG lagi. Mau bikin gebrakan tidak berani, tapi wajah dan bodi Nurul selalu berkelebatan. Namanya juga tetangga dekat. Maka bila di TV sering ada pengamat politik macam Burhanudin Muhtadi dan Gun Gun Haryanto, Arief malah jadi pengamat bini orang. Celakanya, satupun tak ada TV yang mengajak talkshow.

Waktu terus berlalu, tahu-tahu ada perkembangan menggembirakan bagi Arief Uyuhono. Nggak ada angin nggak ada hujan, pasangan Andi-Nurul ini bercerai. Dokter Andi cabut dari rumah tersebut, dan Nurul tinggal sendirian di rumah yang lumayan gede tersebut. “Peluang emas mulai terbuka, Bleh…..” kata setan mengingatkan.

Kini Arief Uyuhoni beralih menjadi pengamat janda. Namun demikian dia tak mau grusa-grusu. Tiga bulan berikutnya barulah dia mencoba mengadakan lobi-lobi setengah kamar. Ternyata sepertinya Nurul memberi lampu hijau, sehingga Arief mulai meningkatkannya jadi lobi dalam kamar.

Jika sudah begini, mau apa lagi kalau tidak begituan? Gara-gara pengaruh setan, Arief yang tadinya lebih cenderung ke nikmat iman, kini bergeser ke nikmat seks. Dan itu dinikmati betul. Setiap ada peluang, dia pasti menyelinap ke kamar Nurul untuk menindak lanjuti Cinta Lama Belum Kelar.

Tapi sial, lama-lama aktivitas rahasia Arief Uyuhono tercium tetangga. Mereka mencurigai, kenapa Arief suka keluar dari rumah janda Nurul di atas pukul 22.00? Maka warga sepakat menggerebeknya. Dan benar saja, begitu Arief ini kembali ke kamar Nurul, langsung dipersekusi. Kali ini Arief-Nurul tertangkap basah, dan memang benar-benar basah karena Arief sampai terkencing-kencing saking malunya.

Untung warga masih bersikap baik, karena memandang istri Arief yang merupakan tokoh masyarakat di lingkungannya. Mereka hanya diminta teken perjanjian bermeterai Rp 6.000,- bahwa takkan mengulang lagi. Nurul yang merasa malu langsung pindah dengan menjual rumahnya dengan harga relatif murah. Sedangkan Arief pun kena tindakan tegas istrinya, yakni digugat cerai lewat Pengadilan Agama.

Kasihan Arief, dari pengamat janda, jadi praktisi duda. (*/Gunarso TS)