KASIHAN sungguh nasib bocah yatim piatu Ad, 13, dari Sleman (DIY) ini. Hanya kedapatan mencuri onderdil bekas di bengkel sepeda motor, dia kena hukuman mandi olie bekas. Tak urung Samidi, 37, pemilik bengkel jadi urusan polisi. Untung saja berakhir damai, tapi sempat viral di medsos.

Dalam Islam, menghardik anak yatim itu sudah menjadi larangan. Dalam Qur’an ada sekitar 22 ayat yang intinya melarang umat menyia-nyiakan anak yatim. Apa lagi aniaya terhadap anak yatim piatu, woo……sanksinya bisa dobel-dobel, lebih berat. Tapi bagaimana bila yang berbuat aniaya itu tak tahu korbannya anak yatim piatu?

Samidi pemilik bengkel sepeda motor di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, sungguh menyesal tujuh turunan. Kenapa waktu itu menjadi tega hati “ngerjai” bocah Ad, dengan mandi olie bekas. Padahal setelah tahu korbannya adalah bocah yatim piatu, dia siap membiayai sekolahnya sebagai penebus dosa.

Kisah yang sempat viral di medsos bulan Mei lalu ini bermula dari kepergian Ad  bersama teman untuk servis rantai sepeda motor ke bengkel Samidi. Entah kenapa, servis rantai selesai kok Ad  kedapatan mencuri pedal persneling bekas. Pemilik bengkel pun memberi sanksi, panggil orangtuanya atau dihukum mandi olie bekas.

Tak diketahui jelas, kenapa harus memberi sanksi pada bocah dengan cara yang aneh-aneh. Kenapa pula harus mandi saja pakai olie bekas? Apakah Samidi ingat pendapat Wakil Ketua DPR Fadli Zon bahwa korupsi itu olie-nya pembangunan? Lalu apa pula hubungannya, olie pembangunan sama olie bekas yang sudah semakin item seperti kali Item di Kemayoran Jakarta?

Samidi sempat merasa aneh juga, kenapa bocah itu tetap tidak mau dipanggilkan orangtunya. Sementara yang nonton semakin banyak, bocah Ad  jadi panik takut dikeroyok. Maka dengan cepat olie bekas dalam jerigen plastik itu langsung diguyurkan ke kepalanya dan tentu saja membasahi wajah dan baju-bajunya.  Adegan selanjutnya sungguh memilukan. Bocah itu sibuk mengusap wajahnya, melindungi matanya yang pedih terkena olie bekas.

Pemilik bengkel sempat terpana akan kenekatan bocah. Tapi selang beberapa waktu kemudian, keterpanaan itu berubah menjadi penyesalan ketika keluarga si bocah datang. Yang datang ternyata pamannya, karena kedua orangtua Ad  sudah meninggal 3 tahun lalu. Bapak tewas jatuh dari pohon dan ibunya menyusul akibat penyakit kanker.

Kasus mandi olie ini sempat ditangani polisi, setidaknya penanganan secara medis dengan memeriksa kondisi Ad. Beruntung dia hanya mengalami iritasi di sebelah matanya. Secara keseluruhnan bocah kelas II SMP itu tak ada ganggungan yang berarti. Wali Ad  dan Samidi selaku pemilik bengkel sudah teken perjanjian bahwa kasus ini diselesaikan secara damai, tanpa ada tuntutan hukum.

Kasihan Ad , harus mandi pakai oli  berapa liter tuh? (DC/Gunarso TS)