CINTA tak bisa dipaksa-paksa. Tapi demi baktinya pada orangtua, Yuyun, 30, mau saja dikawinkan dengan Hendro, 35, yang sama sekali tak dicintai. Tapi malam harinya, saat Hendro hendak “serangan umum” non 1 Maret 1949, Yuyun menolak mentah-mentah. Hendro pun langsung menalaknya malam itu juga.

Banyak asalan perempuan cantik menunda-nunda perkawinan. Bisa karena belum ketemu cowok yang masuk kriteria, bisa juga karena para cowok minder duluan. Banyak juga karena patah hati. Ketika si gadis cantik asyik dengan dirinya sendiri, tahu-tahu usia sudah emak-emak, layaknya hanya jadi anggota timses Capres Prabowo atau Jokowi.

Yuyun warga Surabaya, dalam usia kepala tiga belum juga menikah. Padahal secara pisik Yuyun ini juga cantik dengan bodi menjanjikan. Agar putrinya mau nikah, orangtua selalu membandingkan dengan gadis-gadis angkatannya, tapi Yuyun bergeming. Dia punya prinsip, hanya mau menikah dengan pria idamannya, yang santun dan seiman. Soal goblok nggak bisa kerja nggak masalah.

Tapi karena selalu didesak-desak orangtua, akhirnya Yuyun menyerah juga, ketimbang dianggap anak durhaka. Dia lalu dikawinkan dengan Hendro putra kenalan orangtuanya. Lihat penampilan cowok itu, sama sekali tak tertarik. Usia belum kepala empat rambut sudah pada permisi satu persatu. Tapi demi orangtua dia pasrah.

Singkat cerita perkawinan sudah dilangsungkan dengan meriah di gedung pertemuan berkelas di Surabaya. Malam harinya, seperti lazimnya pengantin baru, target utama adalah “serangan umum” non 1 Maret 1949. Sayangnya, Hendro sudah siap dengan senapan berpeluru dua belas koma tujuh, Yuyun selalu menolak, bahkan tidur tengkurep.

Dirayu-rayu tak mempan, akhirnya Hendro mengeluarkan talaknya malam itu juga. Bagi Yuyun malah jadi sebuah keberuntungan. Dia masih perawan tingting, hanya status saja sudah janda. Esok paginya dia segera mengurus perceraiannya bersama Hendro.

Pengantin baru, ternyata masih buntelan plastik. (*/Gunarso TS)