JAKARTA – Berkat Presiden Jokowi nama genderuwo ngetop lagi. Karena yang bicara Jokowi, maka tak jauh dari masalah politik. Saat bicara itu, Jokowi mengungkap adanya politik genderuwo, politik yang menakut-nakuti rakyat, tidak mengangkat sisi optimisme.

Nah, kalau soal genderuwo sendiri, dalam studi antrololog ngetop asal Amerika Serikat, Clifford Geertz, itu merupakan bagian dari jenis memedi. Tepatnya, genderuwo merupakan memedi laki-laki. Kalau yang perempuan, sebagai isteri genderuwo disebut Wewe. Dalam penelitian Geertz di Mojokutho ( Pare) Kediri, Jatim, wewe selalu menggendong anak dengan selendang.

Genderuwo disebut sebagai lelembut yang senang menakut-nakuti. Tapi secara umum lebih senang bermain-main daripada menyakiti, dan suka berbuat lucu terhadap manusia, seperti menepuk pantat wanita, memindahkan pakaian seseorang dari rumah, dan melemparnya ke kali.

Genderuwo juga senang melempari genteng dengan batu di malam hari. Dia juga senang melompat dari belakang sebatang pohon di pekuburan dalam wujud besar hitam, dan sebagainya.

Saat mencari informasi, Geertz mendapat cerita, seseorang yang bernama Paidin katanya jatuh dari jembatanselagi berjalan di sana. Paidin tahu itu ulah genderuwo yang mendorongnya dari belakang.

Menurutnya, saat itu ia jatuh di air, genderuwo membelenggunya tangannya ke belakang dan berbicara kepadanya dengan kata-kata kuno. Dalam hal inj masyarakat mengungkap, genderuwo selalu menggunakan bahasa Jawa klasik/kuno. Menurut Paidin, genderuwo lantas menanyainya, apakah ia tidak cidera. Jelas bahwa genderuwo tidak bermaksud buruk.

Namun, genderuwo tidak selalu begitu. Meski senang iseng dan kelakar, tapi dia juga muncul yang tidak selalu tidak bahaya.

Seringkali genderuwo muncul sebagai seorang kakek, orang tua, bahkan anak, atau saudara kandung. Orang yang melihat tidak menyadari bahwa itu genderuwo, yang dilihat adalah orang yang akrab dikenalinya itu.

Dalam kondisi itu genderuwo menanyai atau mengajak orang yang ditemuinya: He… ayo ikut aku. Kalau yang diajak menurutinya, maka dia akan tidak terlihat. Ia lantas menghilang.

Keluarga yang kehilangan si korban  menduga bahwa telah terjadi sesuatu,  maka mereka akan bereaksi dan jalan kian kemari sambil memukul pacul, arit, panci, dan sebagainya, untuk menimbulkan suara segaduh mungkin.

Atas suara gaduh itu, genderuwo pun menjadi terganggu. Kalau sudah begitu, genderuwo lantas menawarkan makanan kepada si korban (orang yang diajaknya tadi). Kalau korban mau memakannya, maka ia akan tetap tak terlihat. Kalau korban menolak makanan itu, maka dia akan nampak lagi fisiknya, dan pihak kekuarga bisa menemukannya. (*/win)