“SESUNGGUHNYA Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. Mungkin satu ayat dari Alquran surat Ar-Ra’d ini yang menginsiprasi seorang pria bernama Ikhwan Arief pada tahun 2008 untuk membuat perubahan besar, tidak hanya bagi hidupnya, tapi juga lingkungannya.

Pada tahun itu, Ikhwan, seorang anak nelayan ikan hias berusaha mendobrak kebiasaan di desa tempat tinggalnya, desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Selama tiga generasi nelayan Bangsring, termasuk orangtua Ikhwan, terbiasa menangkap ikan hias menggunakan bom ikan dan potasium.

 Pria yang mendapatkan gelar S1 Jurusan Syariah Islam di Universitas Islam Malang itu menyadari cara yang digunakan nelayan di sekitarnya dapat membahayakan lingkungan. Terlebih cara ilegal itu juga mengancam keberlangsungan kehidupan nelayan di masa mendatang.

Ikhwan menyampaikan pemikirannya. Bukannya mendapat dukungan, pria kelahiran 6 April 1984 itu malah mendapatkan perlawanan dari hampir semua nelayan. Namun dia tidak gentar meski sendiri melawan arus. Kepedulian dan kesadaran akan lingkungan dimulai dengan merubah kebiasaan dan perilaku serta mengubah pola pikir (mind set) nelayan. Diakui perubahan mind set menjadi strategi dasar untuk menyadarkan nelayan meski tidak mudah.

“Satu-satunya cara adalah merubah pola pikir mereka dari merusak menjadi ramah lingkungan. Beberapa gerakan yang kita lakukan, ternyata merubah mind set ini mudah-mudah sulit. Kita anggap mudah bisa, anggap sulit juga bisa,” tuturnya.

Ikhwan mengatakan selama satu tahun berkonsentrasi merubah mind set nelayan sebelum benar-benar mengajak mereka meninggalkan bom ikan dan potasium guna menjaga ekosistem ikan. Dia mulai menanamkan pikirannya dimulai kepada para istri nelayan. Setelah istri, anak-anak para nelayan juga ditulari pengetahuan yang sama.

Selain itu, Ikhwan juga mendekati pemuka agama di sekita tempat tinggalnya untuk membantunya. Dia meminta agar dalam sebulan, khutbah salat Jumat di masjid-masjid membawa materi tentang kepedulian terhadap lingkungan yang diperkuat dengan ayat alquran dan hadist.

resort

“Jadi yang pertama kita adalah berbahasa sederhana. Artinya yang kita mau rubah siapa? Nelayan. Maka kita harus berbahasa nelayan seperti mereka. Jadi walaupun dijelaskan kuliah S1 S2 kita tidak gunakan. Istri nelayan kita komunikasikan dulu. Misal istri nelayan kita kumpulkan , karena istri ini sangat penting terutama ibu-ibu.  Setelah itu kita komunikasikan dengan anak-anaknya. Jadi kita punya kegiatan marine education,” terangnya.

“Sisi masyarakat juga seperti itu. Karena masyarakat desa biasanya, unsur tokoh itu masih tinggi, biasanya Islam, Jadi kita manfaatkan tokoh-tokoh agama . Kita buatkan materi khotbah Jumat. Selama satu bulan materi khutbah kita buatkan bagaimana mereka sampaikan materi khutbah tentang merusak lingkungan,’ imbuh Ikhwan.

Setelah itu, Ikhwan baru masuk ke nelayan. Dia kerap mendatangi tempat pelelangan ikan, warung kopi, atau tempat nelayan berkumpul untuk menyampaikan pemikirannya. Menurutnya, yang terpenting, ajakan meninggalkan kebiasaan lama harus menghadirkan solusi yang secara ekonomi menguntungkan. Pada saat itu, nelayan memang mulai mengeluhkan penurunan pendapatan.

“Dan yang paling penting, bagaimana program yang kita sampaikan sinergi dengan nilai ekonomi mereka. Program yang kita bawa, perubahan mind set itu tidak boleh mengurangi nilai ekonomi mereka.. Jadi kalau selama ini mereka dapat 50 ribu, bagaimana harus mendapatkan minimal 51 ribu. Karena sebagus apapun program yang dibawa, tapi ketika mengurangi nilai ekonomi mereka sepertinya mereka akan menolak,” ungkapnya.

Usahanya tidak berjalan mulus. Banyak nelayan yang menolak pemikirannya. Teror pun kerap didapatkan. Ikhwan menuturkan bahkan orang tuanya baru tersadar usai dua tahun dia berjuang. Namun secara bertahap, katanya, kesadaran mulai muncul, bahkan kini mereka menjadi garda terdepan dalam konservasi lingkungan.

“Kalau menyadarkan orang tua saya sendiri itu Dua tahun. Jadi dari 2008, 2010 orang tua baru sadar. Tetangga juga seperti itu. Teman-teman nelayan di sini tidak semuanya sadar sejak tahun 2008. Dan mereka biasanya sadar saat sangat semangat memusuhi kita. Melecehkan, memusuhi kita, tapi dengan sabar menghadapi mereka, ternyata mereka bisa berubah,” tandas Ikhwan

“Ada di sini namanya pak Lili, salah satu tour guide. Saking bencinya sama kita. Pasir ini dicampuri potasium dan disebarkan karena saking bencinya, padahal gak mau nangkap ikan. Tapi ingin ganggu konsentrasi kita. Terus buat bom-bom kecil dari botol, dilempar. Saking bencinya kepada kita. Sekarang berada di garis terdepan melakukan aktivitas konservasi lingkungan,” ujarnya.

Apartemen Ikan

Ikhwan mengawali konservasi kehidupan bawah laut seluas setengah hektar dalam kondisi paling rusak akibat pemakaian bom ikan dan potasium. Karena ketekunan dan kesabarannya, ekosisten baru mulai muncul. Terumbu karang kembali baik yang mengundang ikan-ikan hias berdatangan.

Keberhasilan itu membuat beberapa nelayan sadar. Seiring waktu semakin banyak nelayan yang bergabung, luas kawasan yang di konservasi pun meningkat. Pria yang sehari-hari mengajar di Madrasah Ibtidaiyah di desanya itu menggunakan metode transplantasi terumbu karang, membuat karang buatan hingga apartemen ikan dalam pemulihan ekosistem.

“Transplantasi Memang sangat lambat, satu tahun cuma satu centimeter. Makanya bisa kita bayangkan bagaimana kalau pakai bom. Satu hektar habis berapa tahun harus kita pulihkan. Makanya bukan hanya transplantasi, kita juga buat karang buatan, apartemen ikan,

“Untuk apartemen ikan sudah ada 500. Pertama bahan kita gunakan kotak minuman. Dari kotak (rak) sprite, fanta kita susun, kita ikat, bawahnya cor , kita tenggelamkan. Awal 2009 kita gunakan itu. Ketika pihak kementerian mengetahui bahwa kita melakukan itu, akhirnya kita dibuatkan dengan bahan khusus yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya.

Dengan membaiknya ekositem bawah laut, ikan pun berdatangan. Pendapatan nelayan pun meningkat. Keberhasilan itu mengundang nelayan lain bergabung. Ikhwan pun mendirikan Kelompok Nelayan Samudera Bakti. Hingga kini Ikhwan mengaku sekitar seribu orang menjadi nelayan binaannya yang berasal dari berbagai daerah.

“Pendapatan mereka dulu sudah anjlok sampai Rp50 ribu, sekarang rata-rata Rp200 ribu perhari untuk kan hias. Jadi nelayan yang identik dengan rakyat miskin sudah turun , bahkan dikatakan sudah tidak ada,” katanya.

Wisata Bawah Laut

wisata bawah laut

Pulihnya ekosistem bawah laut membawa keuntungan lain. Keindahan alam bawah laut dengan terumbu karang dan berbagai spesies ikan hias mempesona dimanfaatkan sebagai tujuan wisata di Bangsring. Ikhwan bersama Kelompok Nelayan Samudera Bakti membuat wisata Bunder alias Bangsring Under Water.

Wisatawan dapat melakukan wisata laut seperti diving, snorkeling, hingga menaiki banana boat. Di Pantai Bangsring, disediakan juga home stay, klinik ikan hiu, dan rumah apung. Pendapatan nelayan kembali bertambah dari sektor wisata karena semua dikelola oleh kelompok nelayan tanpa campur tangan pemerintah kabupaten.

“Wisata ini hanya bonus dari menjaga lingkungan. Dari dulu dana awal mengelola hanya Rp1,5 juta hingga kini aset Bunder bernilai Rp4 miliar. Dari sektor wisata, pendapatan kami Rp200 juta hingga Rp300 juta perbulan,” ungkapnya.

Atas keberhasilannya memelihara lingkungan, Ikhwan diganjar penghargaan bergengsi, penghargaan Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2017 lalu.

Meski menjejaki puncak keberhasilan, Ikhwan tidak lupa untuk tetap menjaga lingkungan. Pendidikan  menjaga lingkungan disebarkan melalui marine education, edukasi bahari yang dia buat.  Dia menyebut kelompoknya bersedi aberbagi ilmu ke semua daerah di Indonesia secara gratis.

“Marine education, ketika mereka sangat memerlukan kita datang ke sana, Kita siap datang secara gratis karena kita punya anggaran sendiri. Mereka tidak perlu membayar kita,” pungkas Ikhwan. (ikbal/tri)