AGAKNYA Sabirin, 45, ini lelaki penganut madzab “Al-nekad-iyah”. Di rumah sudah ada anak istri, masih nginceng Murni, 17, gadis ABG tetangga sendiri. Lewat rayuan gombalnya dia berhasil menggagahi dan menghamili. Caranya nekat sekali, bila nafsu sudah ke ubun-ubun, di kandang ayam pun jadi. Petokkk, petokkkk…..

Bagi lelaki tak beriman, usia 40-50 itu sedang nekat dan nggragas-nggragasnya pada makhluk lawan jenisnya. Meski di rumah sudah ada istri, mata langsung ijo melihat perempuan berwajah bening. Lalu otaknya pun berkhayal, “Andaikan aku jadi suaminya, tiap hari di rumah sarungan terus.” Memangnya nggak isis (kena angin) apa?

Sabirin warga Ambulu, Kabupaten Jember (Jatim), seperti itu kelakuannya. Penampilannya selalu necis dari hari ke hari. Tapi jangan salah, bukan karena tuntutan pergaulan, tapi justru punya target menggauli. Lho, kan sudah ada istri, kenapa repot? Istri itu ibarat “ikan asin”, sedangkan perempuan cantik di luar rumah adalah “ikan hias”. Memang tak boleh digoreng, tapi jika kepepet digoreng rasanya gurih juga, apa lagi kalau pakai tepung!

Di tetangga sebelah rumah, ada gadis ABG namanya Murni. Murni namanya, masih murni pula pemikirannya. Kelebihan ABG itu, tumbuh sebagai gadis cantik, yang lama-lama sangat menggamit rasa, merangsang pandang. Waktu masih kecil, Sabirin tahu persis telanjangnya Murni. Lha kok sekarang masih pengin pula lihat Murni dalam kondisi sama pula. Apa nggak nggilani?

Sebagai penganut madzab Alnekadiyah, Sabirin sama sekali tak malu pada anak istrinya. Diam-diam dia mencoba mendekati Murni yang selembut bensin murni. Awalnya ABG itu menghindar, tapi karena namanya Sabirin, ya dibuat sabar saja. Baginya, gadis jinak-jinak merpati itu sudah biasa, tapi nantinya kan nelur sendiri.

Tak mau kalah dengan Jokowi, Sabirin melakukan pendekatan perut. Maksudnya, Murni sering diajak makan, berupa ditraktir makan bakso, panggil bubur ayam yang kebetulan lewat, atau mie pangsit. Prinsip Sabirin memang, “Pendekatan perut dulu, baru nanti melebar ke bawah perut!”

Ternyata ini berhasil. Sebab baru tujuh kali ditraktir makan, Murni sudah mau diajak jalan bareng, berdua saja bagaikan Rama dan Sinta. Tapi Rama di perwayangan itu sangat alim, sedangkan Rama representasi Sabirin sangatlah rakus. Betapa tidak? Tahu-tahu Murni diajak nginep di hotel. Di sinilah pertama kali kegadisan Murni tanggal.

Sejak itu, asal situasinya mantap terkendali, Murni selalu digauli. Bisa di hotel, bisa di rumah di kala sepi. Bahkan di dekat kandang ayam pun juga bukan masalah. Sampai-sampai kaum unggas itu pada bengong, ini orang pada ngapain? Malam-malam begini kok pada tidak pakai baju, apa nggak masuk angin. Petokkkk, petokkkkk….. saking herannya.

Entah sudah berapa kali mereka berbuat, tak ada jurnalnya. Tahu-tahu beberapa hari lalu orangtuanya curiga, kok perut Murni makin gede secara konsisten. Dibawalah ke bidan, hasilnya ternyata positif hamil 7 bulan. Nah, orangtuapun mendesak, siapa pelaku penyetruman di luar PLN itu. Mengakulah Murni bla bla bla….., dan setelah dilapor ke polisi dengan mudah Sabirin ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui menggauli Murni kurang lebih 15 kali di berbagai tempat.

Jujur lho ya, jangan memanipulasi angka. (*/Gunarso TS)