BENAR-BENAR keterlaluan Ny. Rafiah, 35, dari Sintang (Kalbar) ini. Pengin durian, dibelikan oleh suami. Tapi saat Zulkifli, 40, antar durian ke rumah, eh…..di rumah malah sudah ada “pongge” (isi durian) lelaki lain. Tentu saja Zulkifli ngamuk dan lapor polisi. Untungnya skandal itu bisa didamaikan, tanpa proses hukum.

Nama adalah doa, begitu kata orang. Dinamakan Slamet, agar hidupnya selalu selamat. Nama Sulistyawati, karena orangtua berharap si anak gedenya nanti cantik jelita bak artis sinetron sejuta episode. Ada pula nama Tirto Utomo, eh…..setelah tua malah jadi pengusaha air mineral yang sukses. Tirto utama memang mengandung makna air bagus. Kini tak ada orang yang tak punya air mineral di rumahnya.

Bagaimana dengan nama Zulkifli? Pastilah orangtuanya dulu juga berharap si anak bernasib bagus. Tapi lain dengan Zulkifli made in Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang ini. Namanya Zulkifli tapi oleh bini malah disebut jadi Zulkeple, karena dia punya “burung” kadung keple alias lemah syahwat.

Sebagai wanita muda nan enerjik, punya suami kondisinya sedemikian rupa, tentu saja Rafiah sangat kecewa. Untung saja suami bukan berprofesi sebagai polisi maupun hakim, sehingga tak sampai diledek orang, “Jadi penegak hukum, tapi burung sendiri tak bisa tegak, kan ironis.”

Gara-gara suami kehilangan daya dan kemampuan tersebut, Rafiah merasa kesepian di rumah, meski secara materi berkecukupan. Sebab kebutuhan wanita memang bukan saja benggol (uang), tapi juga bonggol. Bahasa lainnya, antara materil dan onderdil harus berbanding lurus.

Di kampung itu ada anak muda, namanya Suhud, 30. Entah kursus dari mana, dia bisa membaca rasa sepi seorang wanita. Apa lagi Rafiah ini lumayan cantik dan menarik, sehingga Suhud ingin membantu selagi mampu. “Rambutan rapia saja manis dan gempi, apa lagi ini Rafiah yang pakai jilbab, tentu lebih syedappppp,” batin Suhud ngeres sekali.

Mulailah Suhud mengadakan lobi-lobi setengah kamar, sampai akhirnya benar-benar masuk kamar tidur. Bagi Rafiah, kehadiran Suhud memang bagaikan orang ngantuk disorong bantal. Langsung pulessss, lantaran gairah dan kehangatan malam sudah kembali diperoleh meski lewat pekerja otsorching.

Entah ngidam atau apa, belakangan Rafiah jadi pengin buah durian. Diapun lalu minta pada suaminya, Zulkifli, kalau ketemu penjual durian supaya beli barang beberapa buah. Dengan istilah “kalau ketemu”, Rafiah memang tidak menuntut banget. Kalau ada alhamdulillah, tak ada juga bukan masalah.

Zulkifli yang keple ini memang sayang banget pada istrinya, sehingga apapun yang diminta istri pasti dipenuhi. Apalagi hanya buah durian. Masalahnya, belum musim sehingga tak di semua pasar ada dijual. “Nanti ya ma, kalau ada pasti saya belikan,” kata Zulkifli liwat HP.

Dasar sedang milik, di sela-sela tugas kantor Zulkifli menemukan pedagang durian keliling. Langsung dia beli tiga buah yang besar-besar dan ranum. Berapa harganya tanpa ditawar langsung dibayar. Siang itu dia bergegas pulang dulu, meski belum saatnya pulang kantor.

Tiba di rumah, nampak sepi. Pintu depan dikunci, diketuk-ketuk tak dibukakan juga. Zulkifli langsung masuk lewat pintu belakang. Bisa. Tapi alangkah kagetnya, di dalam kamar dia melihat istrinya malah sedang kelonan dengan anak muda. Tentu saja Zulkifli marah. Dia mau ambil pentungan, tapi itu dimanfaatkan si anak muda untuk kabar. Gagalah Zulkifli menghajar pencuri aset miliknya.

Zulkifli segera lapor ke polisi, mengadukan Suhud yang anak tetangga itu. Pebinor itu ditangkap, termasuk juga Rafiah sebagai saksi. Tapi karena pekerjaan polisi sudah cukup banyak, dia minta agar kasus ini didamaikan saja. Kalau ada sanksi, cukup sanksi adat di masyarakat setempat. Ternyata Zulkifli bisa menerima, dan Suhud juga tak keberatan. Maka setelah tandatangani pernyataan kapok, skandal itu di-SP3.

Mau antar durian, eh di rumah istri malah sedang makan “pongge” tetangga. (Gunarso TS)