RATA-RATA lelaki, jika harta sudah berlimpah, kepengin …..kawin lagi. Seperti Wahono, 48, oknum pejabat di Surabaya ini contohnya. Ketika semuanya sudah punya, dia mau nambah bini. Yeni, 45, istrinya tentu saja menentang. Wahono bukan surut, justru istrinya yang digugat cerai. Maju terus pantang mundur!

Dalam Islam beristri lebih dari satu memang dibolehkan, landasannya Qur’an surat Anisa ayat 3. Tapi ingat, itu bagi mereka yang mampu segalanya, termasuk adil. Jika tidak mampu, ya istri satu saja. Tapi ternyata banyak juga lelaki yang memaksakan diri, onderdil tak seimbang dengan materil, memaksakan diri poligami. Ada juga lelaki yang menganggap, istri menolak di poligami sama saja melawan ajaran agama, maka layak diceraikan.

Wahono adalah salah satu lelaki yang terganjal niat poligaminya tersebut. Sebagai birokrat sukses, dia merasa apa-apa sudah punya, seperti lagunya Mus Mulyadi tahun 1970-an. Punya omah gedong sungsun pitu, masak bini hanya satu? Dari sejumlah ustadz yang dimintai konsultasi, mereka juga mendorong niatnya. Wahono juga terkesima oleh prinsip Puspo Wardoyo juragan ayam bakar Wong Solo: banyak istri, banyak rejeki.

Dia sampai perlu konsultasi ke sana kemari, sebetulnya karena sedang kesengsem pada janda muda, Sri Rahayu, 35. Cantik, putih,  seksi, sekel nan cemekel pokoke. Sehari tak ketemu sidia, sudah pusinglah. Persis Bing Slamet di tahun 1960-an, “Sri Rahayu kan kunanti, kalau ku memamandang, penuh kasih sayang……” padahal ujung-ujungnya mengajak goyang!

Sri Rahayu juga tak keberatan dijadikan bini kedua, yang penting adil dari soal benggol hingga bonggol. Merasa jalannya begitu mulus, Wahono mulai melobi istrinya. Sayangnya, niatnya membentur batu karang. Dengan alasan atau tidak alasan apapun, Yeni mengatakan: tidaaaaaaaaaak! A-nya sampai berapa tuh, ….sepuluh! Dilobi dalam kamar atau setengah kamar, Yeni tetap nggiwar (meninggalkan).

Mulailah Wahono menganggap istrinya menentang ajaran agama. Karena diancam mau dicerai juga bergeming, ya sudah…….dia benar-benar ke Pengadilan Agama Surabaya. “Saya ini kaya, apa-apa punya, masak mau poligami dihalang-halangi, ya sudah tak cerai saja,” kata Wahono enteng.

Birokrat kok bisa kaya raya, perlu dicurigai. KPK, KPK, sini dong! (Gunarso TS)