JIKA ada mertua celamitan, mungkin hanyalah Dalijo, 55, dari Probolinggo (Jatim). Masak Painah, 20, istri daripada anak lelakinya, diselingkuhi. Kamidi, 23, marah pada ayahnya, tapi tak berani. Yang jadi sasaran justru istri sendiri. Tengah malam Painah dicekik hingga tewas. Pembunuhan ini terungkap setahun kemudian.

Dunia semangkin tua, sehingga manusia tambah berani berbuat dosa. Dalam dunia selangkangan, semakin banyak lelaki berbuat brutal dan nihil moral. Mengancani adik ipar, itu sudah banyak terjadi. Tapi kini lebih maju lagi. Ada bapak mengencani istri dari pada anak lelaki, ada pula menantu mengencani ibu mertua. Perilaku mereka sudah seperti hewan saja layaknya.

Dalijo warga  Gading, Probolinggo, rupanya termasuk lelaki celamitan itu. Melihat tubuh mulus Painah anak menantunya, kok bisa-bisanya ukuran celana mendadak berubah dari S ke XL. Seketika dia lupa pada Kamidi anak lelakinya selaku suami Painah. Yang terbayang dalam benaknya justru alangkah asyiknya manakala bisa mengencani sang menantu.

Bisa dimaklumi kiranya, Dalijo ini sudah lama menduda. Jadi ibarat mobil begitu, sudah lama tak pernah “tune up” apa lagi sporing balansing. Roda Dalijo sampai ngobeng ke sana ke mari. Mau menikah lagi, takut tak ada yang mau, karena dirinya memang miskin, tak punya aset triliunan. Tapi kalau punya duit segitu, mungkin Dalijo malah tak mikir istri, pengin pula mengadu nasib jadi Cawapres seperti Sandiaga Uno.

Suami istri  Kamidi-Painah memang masih tinggal serumah dengan Dalijo. Tentu saja peluang untuk memenuhi aspirasi urusan bawahnya begitu banyak. Maka di pertengahan tahun 2017 lalu dia memberanikan diri merayu Painah. “Kini sedang musim Pilkada, di mana-mana ada coblosan. Kita nyoblos sendiri yuk….,” kata Dalijo tanpa malu-malu.

Awalnya Painah menolak, tapi Karena Dalijo terus mendesak dan merayu, akhirnya dia bertekuk lutut dan berbuka paha juga. Sejak itu Painah bak poliandri saja laiknya. Kadang melayani suami sendiri, kadang melayani mertua yang doyan pupu (paha)-ne Painah. Kamidi selaku suami tak pernah mengetahui permainan ini. Setahunya, stabilitas rumahtangga selalu mantap terkendali.

Sampai suatu hari di bulan Desember 2017, Kamidi memergoki Painah tidur seranjang dengan ayahnya. Dia langsung cemburu, dan menduga yang iya-iya. Tapi mau memarahi ayahnya tak berani. Sebab agama mengajarkan, membentak orangtua itu sudah durhaka. Kalau sampai dikutuk ayah menjadi kecebong atau kampret, kan berabe. Nglamar jadi timses Prabowo atau Jokowi, belum tentu diterima.

Sejak itu Kamidi selalu gelisah dan panas di dada. Klimaksnya suatu malam pukul 03.00 dia nekat mencekik istrinya hingga tewas. Pada keluarga dan tetangga disebutkan Painah mati karena kanker. Tetangga yang curiga lapor ke polisi. Setelah dibongkar mayat Painah, ternyata ada bekas cekikan di leher. Kamidi langsung ditangkap dan tak bisa mengelak.

Mengelak ke mana? Ke kanan ada polisi, ke kiri ada tembok. (Gunarso TS)