SUAMI ramah dan sosial memang baik, tapi keramahan Ngadiono, 40, dari Malang ini kelewatan. Saking sosialnya, istri di rumah malah nggak kebagian, dalam arti hidupnya malah kekurangan. Tak tahan dengan pencitraan suami, Dasminah, 35, memilih bercerai, tak mau bersuamikan lelaki berlagak Kantor Sosial.

Ramah dan suka memberi, itu sosok manusia yang baik. Tapi semuanya harus terukur, disesuaikan dengan kemampuan. Jika terlalu royal, nyah-nyoh (suka memberi), bisa malah tak punya apa-apa. Orang Jawa menyebutnya: blaba wuda, yakni jadi jatuh miskin karena terlalu royal. Suka memberi itu boleh, tapi jangan sampai seperti Kantor Sosial yang memang ada pos anggarannya dari APBN atau APBD.

Ngadiono yang tinggal di Klojen Malang, memang sosok lelaki yang pinter bergaul dan menggauli. Karena orangnya ramah, dia jadi banyak temannya. Dalam keluarga juga supel pada kelaurga sendiri dan keluarga istri. Dia tak hanya murah senyum, tapi juga pemurah dalam arti suka memberi. Siapa saja yang mengeluh kesulitan, termasuk kesulitan ekonominya, pasti dibantunya.

Kata-kata bijak menyebutkan, suka memberi takkan membuat miskin. Itu kalau penghasilannya macam-macam, tak hanya gaji saja. Pos sini berkurang, tapi masih ada penutupnya dari pos sini. Kalau sumber penghasilan hanya dari gaji belaka, sementara penghasilan lain tak ada, ya jadi anggota pasukan berani tekor.

Kondisi rumahtangga Ngadiono – Dasminah seperti itu. Setiap ada tamu ke rumah, ujung-ujungnja kebanyakan minta bantuan. Tambah-tambah Ngadiono ini wataknya suka disanjung, sehingga asal diangkat-angkat pasrtilah keluar uangnya. Gila nggak, di rumah hanya tinggal uang Rp 50.000-an selembar, tapi jika ada orang pinjam atau minta, pasti dikasihkan.

Akhirnya rumahtangga Ngadiono sering terjadi defisit anggaran. Istri sering menasihati, tapi tak digubris. Lama-lama Dasminah jadi jengkel. Rumahtangga sekian tahun kok tak punya apa-apa, gara-gara suami demen pencitraan. Kalau jadi Capres-Caewapres nggak apa, lha Ngadiono ini jadi anggota Timses juga bukan.

Kejengkelan Dasminah sampai ke titik kulminasi, sehingga dia mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Tapi rupanya Ngadiono tenang-tenang saja, bahkan bangga digugat cerai oleh bini. Ada mentri dicap pencetak utang, Ngadiono malah dicap tukang pemberi utang. Lebih keren, kan?

Keren, tapi lama-lamna jualan legen (nira). (*/Gunarso TS)