DI mata Dayun, 35, istri itu harus selalu siap kapan saja suami minta “jatah”. Padahal karena kesal pada suami, Ny. Winarti, 30, menolak ajakan itu. Lelaki yang pusing 3 bulan lebih tidak “ngetap olie”, jadi kalap. Bini yang dikawini sekitar 5 tahun lalu itu langsung ditusuk pisau berulangkali. Ya wasalamlah………….

Kepentingan istri juga kepentingan suami, maka pasangan suami istri tak boleh egois, mementingkan diri sendiri. Banyak rumahtangga bubar gara-gara suami istri itu intoleran pada kepentingan pasangannya. Mending jika hanya ribut adu mulut, tapi banyak juga yang tega sampai penghilangan nyawa. Padahal yang namanya nyawa, jika sudah hilang takkan kembali meski sudah dilaporkan ke polisi.

Nah, Dayun asal  Poncol Magetan (Jatim) ini rupanya juga terlalu ego jadi orang. Kepentingan dia harus selalu dipenuhi, tapi kepentingan istri dia tak menggubris. Ketika sudah ketemu jalan buntu, tega-teganya dia menghilangkan nyawa istri. Padahal setelah kejadian itu, dia ketakutan sendiri. Lari menghindari kejaran polisi, dari satu titik ke titik lain. Benar-benar seperti Cawapres sedang beburu elektoral.

Meski suami istri, pasangan Dayun – Winarti memang tidak satu rumah. Sang istri tetap tinggal di Magetan, sedang suami di Kalimantan Timur, bekerja di perkebunan kelapa sawit. Hanya 3 bulan sekali dia pulang ke Magetan dalam rangka setor benggol dan bonggol.

Setiap suami pulang kampung dalam rangka “ngetap olie”, Winarti sambil melayani suami selalu merajuk agar rumah orangtuanya dipugar, karena sudah banyak yang rusak. Genting pada melorot, dinding banyak yang bolong. Tapi Dayun hanya mengiyakan saja, tak pernah menyediakan anggaran untuk itu.

Mungkin juga gajinya kecil, kurang dari Rp 7 juta sebulan. Dayun ingin sebetulnya punya rumah sendiri, tidak numpang di rumah mertua. Tapi untuk cari rumah cicilan yang ber-DP nol rupiah hanya ada di Jakarta, sedangkan dia bukan warga Ibukota. Karenanya, segala keinginannya tetap dipendam saja, termasuk harus mengabaikan usulan istrinya yang selalu diajukan hampir setiap bulan.

Seminggu lalu Dayun kembali dari Kalimantan. Seperti biasa dia minta jatah, untuk “ngetap olie” sebagaimana biasanya. Tapi ternyata kali ini sambutan istrinya dingin, bahkan songong. Baru dicolek saja sudah bilang, “Ogah, ogah!” Ketika Dayun membetot roknya, Winarti mempertahankannya. Tahu-tahu weeeeekkkk…., kain itu sampai sobek.

Winarti jadi makin marah dan mogok ranjang pokoknya.  Dayun yang sudah pusing 3 bulan tak ganti olie Top-One, padahal spedometer sudah lebih dari 5.000 Km, jadi emosi. Ada pisau terselip di dinding langsung saja disambar dan ditusukkan ke tubuh Winarti berulangkali, tentu saja tewas di tempat.

Keributan itu menjadikan mertuanya melongok ke kamar. Tapi malah minta pada mertua untuk menusuk dadanya, biar mati seperti istrinya. Tentu saja mertua perempuan itu menolak, memangnya Titik Sandhora-Muhsin, minta dibelah dadanya segala seperti lagu “Pertemuan Adam dan Hawa”?

Ibu Winarti bukan memenuhi permintaan si mantu, tapi malah berteriak minta tolong. Di kala para tetangga berdatangan, Dayun malah kabur. Sementara jenazah Winarti dikuburkan, polisi terus memburu jejak sang pelarian. Polisi meyakini tak mungkin Dayun kembali ke Kalimantan.

Benar saja. Dayun yang berpindah-pindah tempat dari satu titik ke titik lain seperti Cawapres mencari simpati massa, tahu-tahu l dicegat polisi di perbatasan Ngawi-Solo, mungkin habis makan di RM Duta. Dia segera digelandang ke Magetan. Dalam pemeriksaan mengaku terus terang, Dayun mata gelap karena istrinya menolak diajak hubungan intim.

Hubungan intim itu apa sih,? (Gunarso TS)